(c) here Namanya juga manusia, gak ada yang sama persis. Kelakuannya beda-beda, kemauannya juga berbeda. Kelakuan dosen pembimbing juga gitu, berbeda-beda. Ada yang bilang ujian sesungguhnya bagi seorang mahasiswa itu bukan saat belajar sampe mata berdarah-darah buat UTS dan UAS tapi ujian sesungguhnya itu saat berhadapan dengan dosen pembimbing. Ujian hidup mah datang hampir tiap hari... Berikut ini jenis-jenis atau tipe-tipe dosen pembimbing yang berhasil saya analisis setelah mengamati pertumbuhan jentik nyamuk selama lima minggu. 1. Jenis Dosen Pembimbing yang Sulit Ditemui Di semua kampus di Indonesia, pasti ada aja jenis dosen yang ini. Sibuknya mereka itu bisa lebih sibuk dari Presiden Republik Indonesia. Mending bimbingan ama Presiden aja kalo gitu kan... Gak tau tuh mereka sibuknya ngapain aja. Ngurus negara kali ya? Jadi Presidennya yang nyantai. Kalo dosen kayak gini, biasanya mahasiswa harus peka dan gesit. Bisa dengan cara ...
Tanggal 10 Juni, Netizen dihebohkan dengan penemuan mayat anak kecil bernama Engeline. Kenapa Netizen yang duluan heboh? Karena zaman sekarang, kehebohan dimulai dari internet. Informasi dari internet itu cepat banget, kayak kamu yang ditikung ama temen sendiri. Nah, setelah ditemukan, Netizen (di twitterland) mulai membanjiri lalu lintas tweet dengan hashtag #RIPAngeline , bersama-sama mendoakan Engeline. Ada apa ini? Kok pada heboh ya? Jadi gini... Engeline dilaporkan hilang sama keluarganya. Pihak keluarga menduga Engelina hilang dibawa lari orang yang tidak dikenal. ( SindoNews ) Nah, saat itu saya mikirnya ini pasti ulah sindikat internasional perdagangan manusia. Mereka nyulik anak-anak buat dijual. Biasanya kalo sindikat ini yang beraksi, kemungkinan ketemunya kecil karena mereka rapi banget. Yah namanya juga analisa sotoy. Lagipula, ada banyak anak yang dilaporkan hilang loh. Coba riset kecil-kecilan, berapa banyak anak Indonesia dilaporka...
Beberapa waktu lalu, saya bertemu sama dua orang teman (semasa SMA) di kota Yogyakarta, memenuhi janji-janji palsu saya selama ini buat ketemuan. Padahal kota Yogyakarta dan kota tempat saya menumpang tidur saat ini sangat dekat. Jaraknya kira-kira 1 bulan naik pesawat. Kami sudah cukup lama tidak bertemu sejak lulus SMA tahun seribu sembilan ratus sekian. Jadi kami adalah alumni SMA dari Papua. Pas ketemu, suasananya cukup haru, kami berjabat tangan, saling bertatapan, tersenyum lalu berpelukan dan menangis bersama-sama di pinggir jalan. Tidak... Kami tidak secewek itu! Nah, pas ingat-ingat lagi pertemuan kami dan topik tentang obrolan kami malam itu, jari-jari saya jadi gatal buat menulis postingan ini... PAPUA... Ada banyak yang bisa diceritakan dari sana. Pulau paling timur dari Indonesia ini memang menyimpan banyak cerita. Ini kalo pulau-pulau besar di Indonesia diibaratkan anak-anak bersaudara yang tidur seranjang, Sumatera dan Papua adalah dua orang kakak yang tidur...
Comments
Post a Comment
Berkomentarlah yang baik dan sopan. Jangan komentar pake bahasa gaib.